Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Dugaan Setoran Rp2.000 per Porsi MBG, BGN Putus Yayasan Tak Berperan

Laporan: Raja Media Network
Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:08 WIB
Kepala BGN Sudaryono - Ilustrasi RMN -
Kepala BGN Sudaryono - Ilustrasi RMN -

RMBANTEN.COM - Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) menemukan persoalan dalam hubungan antara mitra dan yayasan yang terlibat dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam evaluasi di lapangan, BGN menemukan laporan dugaan adanya setoran atau potongan hingga Rp2.000 per porsi yang dibebankan kepada mitra.
 

Kepala BGN Sudaryono mengatakan, persoalan tersebut muncul ketika mitra yang mengeluarkan modal untuk membangun dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) justru berhadapan dengan yayasan yang dinilai tidak terlibat langsung dalam operasional program.
 

Mitra Bangun Dapur, Yayasan Minta Setoran
 

Sudaryono mengatakan, BGN menemukan adanya konflik antara sejumlah mitra dan yayasan dalam pelaksanaan MBG.
 

“Pada praktiknya ini kami menemukan satu fakta bahwa mitra sama yayasan ini ada yang kemudian berkonflik. Mitra itu adalah orang yang punya modal, dia membangun dapurnya, keluar biaya, yayasan itu kemudian tidak nyambung sama mitranya,” kata Sudaryono.
 

Pernyataan tersebut disampaikan saat peresmian SPPG Wilayah 3T dan Prevalensi Stunting Tinggi di 16 provinsi Indonesia Timur, sebagaimana dikutip dari laman BGN RI, Minggu (4/10/2026).
 

Ada Potongan Rp1.500-Rp2.000 per Porsi
 

Menurut Sudaryono, BGN menerima laporan adanya mitra yang diminta memberikan setoran atau potongan sebesar Rp1.500 hingga Rp2.000 untuk setiap porsi MBG.
 

Ia menilai potongan tersebut berpotensi memengaruhi kualitas makanan yang disediakan kepada penerima manfaat.
 

“Ada mitra, dia dipotong 1.500, ada yang dipotong 2.000, bayangkan! Yang terjadi adalah karena dipotong. Dia makan menunya itu dikurangi kualitasnya, ini tidak boleh lagi terjadi,” ujar Sudaryono.
 

Yayasan Tak Berkontribusi Bakal Diputus
 

BGN, kata Sudaryono, akan mengambil tindakan terhadap yayasan yang meminta setoran tetapi tidak memiliki kontribusi nyata dalam penyelenggaraan MBG.
 

Kerja sama dapat diputus apabila yayasan tidak menjalankan fungsi pembinaan, pengawasan, permodalan maupun kegiatan operasional program.
 

“Pokoknya orang-orang yang tidak ada andil, tidak membina, tidak ikut repot, tidak modal, tidak membina, tidak ikut sibuk. Tidak mengawasi, tidak ada andil apa pun hanya minta kejar setoran, itu semua akan kita cut off,” tegasnya.
 

PKS Akan Diperbarui
 

Sebagai bagian dari pembenahan, BGN menyiapkan mekanisme baru dalam hubungan kerja sama antara mitra dan pengelola dapur SPPG.
 

Salah satunya melalui pembaruan Perjanjian Kerja Sama (PKS). Langkah tersebut diarahkan untuk menghilangkan berbagai potongan yang dinilai tidak diperlukan dalam pelaksanaan program.
 

BGN juga melakukan penyesuaian terhadap tata kelola MBG, termasuk pengaturan ulang skema insentif yang sebelumnya sebesar Rp6 juta per hari menjadi Rp2.000 per porsi.
 

Evaluasi MBG Terus Dilakukan
 

Sudaryono menegaskan, pembenahan tersebut merupakan bagian dari evaluasi berkelanjutan sejak program MBG berjalan.
 

Menurutnya, berbagai persoalan yang ditemukan di lapangan akan menjadi bahan untuk memperbaiki mekanisme pelaksanaan program, sehingga tujuan MBG tetap berjalan tanpa mengorbankan kualitas makanan.
 

“Yang baik kita tambah baik, yang jelek kita perbaiki jadi tambah baik. Dan kita terus kita perbaiki, insya Allah,” kata Sudaryono.
 

RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.rajamedia

Komentar: