Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Membaca Arah Politik Prabowo (6): Etika Kekuasaan dalam Demokrasi Modern

Oleh: H. Dede Zaki Mubarok
Kamis, 06 Agustus 2026 | 15:50 WIB
Artikel (6): Membaca Arah Politik Prabowo "Etika Kekuasaan dalam Demokrasi Modern" - RMN -
Artikel (6): Membaca Arah Politik Prabowo "Etika Kekuasaan dalam Demokrasi Modern" - RMN -

RMBANTEN.COM - "He who governs by virtue is like the North Star, which remains in its place while all the lesser stars do homage to it." — Confucius -
 

Lebih dari dua ribu tahun lalu, Confucius mengajarkan bahwa kekuasaan yang dijalankan dengan kebajikan akan melahirkan penghormatan, bukan karena rasa takut, melainkan karena keteladanan. Seorang pemimpin yang memerintah dengan integritas tidak memerlukan kekuasaan yang berlebihan untuk ditaati, sebab legitimasi terbesarnya lahir dari kepercayaan rakyat.
 

Pesan tersebut tetap relevan dalam demokrasi modern. Di tengah semakin kuatnya tuntutan terhadap transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi publik, kualitas sebuah pemerintahan tidak lagi diukur hanya dari keberhasilannya membangun infrastruktur atau meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana kekuasaan digunakan: apakah menjadi sarana pengabdian kepada rakyat atau sekadar alat mempertahankan kepentingan politik.

Dalam perspektif itu, membaca arah politik pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tidak cukup hanya melalui capaian pembangunan atau kebijakan yang dihasilkan. Yang lebih penting adalah mencermati bagaimana kekuasaan ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat supremasi hukum, membangun birokrasi yang profesional, memberantas korupsi tanpa pandang bulu, serta menghadirkan negara yang semakin dipercaya oleh rakyat.
 

Sebab, hukum dapat mengatur apa yang boleh dilakukan. Namun etika mengajarkan apa yang seharusnya dilakukan.
 

Demokrasi Membutuhkan Etika
 

Demokrasi sering dipahami sebagai mekanisme memilih pemimpin melalui pemilihan umum. Padahal demokrasi tidak berhenti pada proses elektoral. Demokrasi memperoleh makna ketika kekuasaan dijalankan secara bertanggung jawab dan berpihak kepada kepentingan rakyat.
 

Sosiolog Jerman Max Weber membedakan antara ethic of conviction (etika keyakinan) dan ethic of responsibility (etika tanggung jawab). Dalam pemerintahan, seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki niat baik atau keyakinan yang benar. Ia juga wajib mempertanggungjawabkan setiap keputusan beserta dampaknya terhadap masyarakat.
 

Karena itu, demokrasi modern tidak hanya membutuhkan legitimasi politik, tetapi juga legitimasi etis. Pemerintahan yang memperoleh mandat rakyat harus membuktikan bahwa setiap kewenangan digunakan secara bertanggung jawab dan untuk sebesar-besarnya kepentingan publik.
 

Etika adalah Batas Moral Kekuasaan
 

Konstitusi memberikan batas hukum.
 

Demokrasi memberikan batas politik.
 

Namun etika memberikan batas moral.
 

Tidak semua tindakan yang legal otomatis etis. Sebaliknya, banyak keputusan yang lahir dari pertimbangan etis justru memperkuat kepercayaan publik meskipun tidak secara eksplisit diatur dalam peraturan perundang-undangan.
 

Di sinilah etika menjadi penjaga nurani kekuasaan. Ia mencegah kewenangan berubah menjadi kesewenang-wenangan, sekaligus memastikan bahwa jabatan publik tetap dipandang sebagai amanah, bukan hak istimewa.
 

Semakin besar kekuasaan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral yang harus dipikulnya.
 

Kekuasaan adalah Amanah
 

Dalam negara demokrasi, kekuasaan bukanlah milik pribadi. Kekuasaan berasal dari rakyat dan dijalankan atas dasar konstitusi.
 

Karena itu, setiap jabatan publik pada hakikatnya adalah amanah.
 

Ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah seberapa lama ia berkuasa atau seberapa luas kewenangannya, melainkan seberapa besar manfaat yang mampu dihadirkannya bagi masyarakat.
 

Pemimpin yang memahami hakikat amanah akan menjadikan kekuasaan sebagai sarana melayani, bukan untuk dilayani.
 

Good Governance Dimulai dari Etika
 

Konsep good governance selama ini dikenal melalui prinsip-prinsip seperti akuntabilitas, transparansi, partisipasi, efektivitas, dan supremasi hukum.
 

Namun seluruh prinsip tersebut sesungguhnya bertumpu pada satu fondasi yang sama, yaitu etika.
 

Tanpa etika, transparansi hanya menjadi prosedur administratif. Akuntabilitas berubah menjadi formalitas. Partisipasi kehilangan makna. Bahkan supremasi hukum pun dapat dipersepsikan sekadar sebagai instrumen kekuasaan.
 

Karena itu, etika bukan pelengkap tata kelola pemerintahan. Etika adalah ruh yang menghidupkan seluruh prinsip good governance.
 

Kepemimpinan Membangun Budaya
 

Peter Drucker pernah mengingatkan, "Culture eats strategy for breakfast."
 

Pesan tersebut menjelaskan bahwa strategi sebesar apa pun tidak akan berhasil apabila tidak didukung oleh budaya organisasi yang sehat.
 

Dalam pemerintahan, budaya itu selalu dimulai dari pemimpin.
 

Apa yang ditoleransi pemimpin akan menjadi kebiasaan.
 

Apa yang dihargai pemimpin akan menjadi budaya.
 

Apa yang ditegakkan secara konsisten akan menjadi karakter institusi.
 

Oleh sebab itu, keteladanan memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada pidato atau slogan.
 

Membaca Arah Politik Prabowo
 

Sejumlah agenda yang menjadi perhatian pemerintahan Presiden Prabowo—penguatan supremasi hukum, pemberantasan korupsi, reformasi birokrasi, dan peningkatan kualitas pelayanan publik—akan memperoleh makna yang lebih besar apabila dijalankan dalam kerangka etika kekuasaan.
 

Keberhasilan pembangunan bukan hanya diukur dari capaian fisik, melainkan juga dari kualitas tata kelola yang menyertainya. Pembangunan yang dibangun di atas etika akan melahirkan kepercayaan. Sebaliknya, pembangunan tanpa etika berisiko kehilangan legitimasi di mata masyarakat.
 

Di sinilah arah politik pemerintahan akan diuji, bukan hanya oleh keberhasilan program-programnya, tetapi juga oleh konsistensi menjaga integritas dalam penggunaan kekuasaan.
 

Penutup
 

Kekuasaan selalu bersifat sementara.
 

Jabatan memiliki batas waktu.
 

Pemerintahan akan berganti.
 

Namun etika akan menentukan bagaimana sejarah mengingat seorang pemimpin.
 

Negara yang kuat bukan hanya dibangun oleh konstitusi yang baik, tetapi juga oleh pemimpin yang memahami bahwa setiap kewenangan mengandung tanggung jawab moral kepada rakyat.
 

Ketika hukum ditegakkan secara adil, integritas dijaga dengan konsisten, dan kekuasaan dijalankan berdasarkan etika, demokrasi tidak hanya menghasilkan pemerintahan yang sah, tetapi juga pemerintahan yang dipercaya.
 

"Sejarah tidak pernah hanya mengingat siapa yang berkuasa. Sejarah akan selalu mengingat bagaimana kekuasaan itu digunakan."
 

"Membaca arah politik sebuah pemerintahan bukanlah menebak kehendak kekuasaan, melainkan mencermati konsistensi antara gagasan, kebijakan, dan tindakan. Sebab, kekuasaan yang dibatasi oleh hukum akan melahirkan ketertiban, tetapi kekuasaan yang dipandu oleh etika akan melahirkan kepercayaan."
 

Penulis: Wartawan Senior, Pengurus Pusat IKALUIN Jakarta.
 

Bersambung ke Artikel (7): Kepemimpinan dan Teladan Moral
 

RAJA MEDIA - Opini 2026rajamedia

Komentar: