Komisi I Minta Wantanas Serius Atasi Bahaya LGBT dan Turunnya Angka Pernikahan
![Komisi I Minta Wantanas Serius Atasi Bahaya LGBT dan Turunnya Angka Pernikahan Ilustrasi LGBT. [Foto: Repro/RMN]](https://rajamedia.co/storage/002/2024/11/komisi-i-minta-wantanas-serius-atasi-bahaya-lgbt-dan-turunnya-angka-pernikahan-16112024-141340.jpg)
RMBANTEN.COM - Parlemen, Jakarta - Komisi I DPR RI meminta Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) untuk lebih serius mengatasi fenomena Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Queer (LGBTQ) dan menurunnya angka pernikahan.
Hal itu disampaikan Anggota Komisi I DPR RI, Oleh Soleh dalam keterangannya, dikutip Sabtu (16/1).
"Saya belum melihat ada gerakan konsen soal penanganan LGBTQ ini, belum ada yang kedengaran bersuara keras lantang terkait LGBTQ," tegas Oleh Soleh.
Dikatakan Oleh Soleh, fenomena LGBTQ dan turunnya angka pernikahan, salah satunya merupakan dampak atau pengaruh globalisasi dari media sosial yang terus meluas. Sehingga LGBTQ menjadi salah satu isu strategis nasional 2025 di bidang sosial budaya.
"Fenomena yang sama terjadi di Korea Selatan (Korsel) yang pada akhirnya mempengaruhi angka kelahiran dan jumlah bayi lahir. Jika dibiarkan itu terjadi maka sekolah-sekolah akan kosong," ujarnya.
Oleh Soleh pun meminta agar Wantannas dan tentunya pemerintah serius mencegah fenomena semacam itu terjadi di Indonesia. Pasalnya, Indonesia sebentar lagi akan menyongsong Indonesia Emas di tahun 2045
"Hal itu juga harus diikuti dengan penanaman nilai moral dari sumber daya manusia (SDM) Indonesia, serta menjaga budaya ketimuran yang notabene merupakan ciri khas budaya bangs Indonesia," ujarnya.
"Saya berpandangan bahwa bukan hanya infrastruktur bagus, bangunan bagus, teknologi bagus, tetapi yang paling pokok adalah soal moralitas, perilaku anak-anak dan generasi penerus bangsa," demikian tutup Oleh Soleh.
Peristiwa 6 hari yang lalu

Warta Banten | 3 hari yang lalu
Mancanagara | 3 hari yang lalu
Nagara | 4 hari yang lalu
Hukum | 5 hari yang lalu
Hukum | 4 hari yang lalu
Nagara | 4 hari yang lalu
Ékobis | 4 hari yang lalu
Peristiwa | 5 hari yang lalu
Pamenteun | 6 hari yang lalu