Ketua IKALUIN '97: Persaudaraan Alumni Tak Berakhir Saat Sahabat Berpulang
RMBANTEN.COM – Ciputat – Ketua Ikatan Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta angkatan 1997 (IKALUIN ’97), Hena Rustiana, menegaskan pentingnya membangun organisasi alumni yang tidak hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi juga menghadirkan kepedulian sosial dan manfaat nyata bagi sesama.
Pesan tersebut disampaikan Hena di depan Ketua Umum IKALUIN Jakarta Dr. Tb. Ace Hasan Syadzily beserta jajaran yang hadir dalam acara Pelantikan Pengurus Ikaluin ’97, Blissful Maulid, dan santunan anak yatim di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).
Dalam sambutannya, Hena menekankan bahwa persaudaraan alumni harus tetap terjaga, termasuk melalui perhatian kepada anak-anak dari sahabat alumni yang telah meninggal dunia.
“IKALUIN ’97 harus menjadi rumah bersama, tempat kita merawat silaturahmi, berbagi kepedulian, dan menghadirkan manfaat bagi sesama,” ujar Hena.
Merangkul Anak Yatim, Menjaga Persaudaraan
Salah satu perhatian utama Hena adalah keberadaan anak-anak yatim dari keluarga alumni. Menurutnya, hubungan persaudaraan yang terbangun sejak masa kuliah tidak boleh terputus ketika salah seorang sahabat telah tiada.
Ikatan alumni harus mampu melanjutkan kepedulian kepada keluarga yang ditinggalkan, terutama anak-anak yang membutuhkan perhatian dan dukungan.
Hena menekankan pentingnya menghadirkan suasana kekeluargaan agar anak-anak tersebut tetap merasa memiliki tempat untuk bersandar.
“Ketika sahabat kita telah tiada, bukan berarti hubungan persaudaraan kita ikut berakhir. Anak-anak mereka tetap menjadi bagian dari keluarga besar Ikaluin ’97 yang harus kita rangkul bersama.”
Semangat tersebut menjadi landasan bagi Ikaluin ’97 untuk membangun kepedulian yang tidak berhenti pada ungkapan simpati, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata.
Santunan Rutin untuk Empat Anak Asuh
Komitmen sosial Ikaluin ’97 diwujudkan melalui program santunan rutin setiap bulan kepada empat anak asuh dari keluarga alumni.
Program tersebut didukung oleh donasi para alumni yang dihimpun untuk membantu memenuhi kebutuhan anak-anak yang menjadi bagian dari keluarga besar organisasi.
Bagi Hena, kepedulian sosial merupakan salah satu cara menjaga persaudaraan agar tetap bermakna, bahkan ketika anggota keluarga besar alumni menghadapi kehilangan.
“Kepedulian jangan hanya hadir ketika kita berkumpul dalam sebuah acara. Kita ingin perhatian itu terus berjalan, sehingga anak-anak dari keluarga sahabat kita tetap merasakan bahwa mereka tidak sendirian,” ujar Hena.
Program santunan tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan visi Ikaluin ’97 sebagai organisasi yang mengedepankan solidaritas dan perhatian terhadap sesama.
Rumah Pulang, Rumah Peduli, Rumah Berkah
Dalam sambutannya, Hena juga memaparkan tiga konsep yang ingin dijadikan landasan perjalanan Ikaluin ’97, yakni Rumah Pulang, Rumah Peduli, dan Rumah Berkah.
Ketiganya menggambarkan harapan agar organisasi alumni tidak hanya menjadi tempat bertemu, tetapi juga ruang untuk memperkuat persaudaraan dan membangun kegiatan yang bermanfaat.
“Saya ingin Ikaluin ’97 menjadi Rumah Pulang, Rumah Peduli, dan Rumah Berkah bagi kita semua,” demikian gagasan utama yang disampaikan Hena dalam sambutannya.
Rumah Pulang dimaknai sebagai tempat para alumni kembali menjalin kedekatan, mengenang masa-masa kuliah, dan mempererat persahabatan yang telah terbangun selama bertahun-tahun.
Rumah Peduli menjadi ruang untuk berbagi perhatian, saling membantu, dan hadir bagi sesama alumni maupun keluarga alumni yang membutuhkan dukungan.
Sementara itu, Rumah Berkah diharapkan menjadi wadah silaturahmi yang menghasilkan manfaat, memperkuat hubungan antaranggotanya, serta membuka peluang kebaikan bagi masa depan.
Hena ingin ketiga gagasan tersebut menjadi semangat bersama dalam menjalankan organisasi, bukan sekadar slogan.
“Kita ingin silaturahmi ini bukan hanya mempertemukan kembali teman-teman lama, tetapi juga melahirkan kepedulian dan kebermanfaatan bagi banyak orang,” terangnya.
Kisah di Balik Penundaan Pelantikan
Dalam sambutannya, Hena turut menceritakan perjalanan personal yang menyebabkan pelantikan pengurus Ikaluin ’97 tertunda selama satu tahun.
Ia mengungkapkan bahwa sehari sebelum jadwal pelantikan pada tahun sebelumnya, dirinya harus menjalani persalinan darurat akibat kondisi preeklamsia.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang hingga akhirnya pelantikan pengurus dapat diselenggarakan pada 17 Oktober 2026.
Kisah itu memberikan gambaran tentang tantangan yang dihadapi Hena dalam menjalani tanggung jawab organisasi sekaligus menghadapi situasi penting dalam kehidupan keluarganya.
Pelantikan yang akhirnya terlaksana menjadi momentum untuk kembali memperkuat komitmen pengurus dalam menjalankan organisasi dan merealisasikan program-program yang telah direncanakan.
Blissful Maulid dan Santunan Anak Yatim
Pelantikan pengurus Ikaluin ’97 kali ini dirangkai dengan Blissful Maulid dan santunan anak yatim.
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat nilai keagamaan sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial di lingkungan alumni.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW juga menjadi pengingat pentingnya meneladani nilai kasih sayang, persaudaraan, dan kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan perhatian.
Bagi IKALUIN ’97, kegiatan tersebut sejalan dengan semangat membangun organisasi yang tidak hanya aktif dalam silaturahmi, tetapi juga hadir melalui aksi sosial.
“Kami ingin kebersamaan ini membawa berkah. Bukan hanya untuk anggota IKALUIN ’97, melainkan juga bagi keluarga alumni dan anak-anak yang membutuhkan perhatian kita,” ujarnya
Merawat Persaudaraan, Melanjutkan Kebaikan
Pesan Hena Rustiana menegaskan bahwa kekuatan organisasi alumni tidak hanya terletak pada jumlah anggota atau banyaknya kegiatan yang diselenggarakan.
Lebih dari itu, organisasi perlu membangun ikatan emosional, kepedulian, dan komitmen untuk saling membantu dalam berbagai keadaan.
Melalui program santunan rutin bagi empat anak asuh dan gagasan Rumah Pulang, Rumah Peduli, serta Rumah Berkah, IKALUIN ’97 berupaya menjadikan silaturahmi sebagai kekuatan untuk menghadirkan manfaat nyata.
Persahabatan yang tumbuh sejak masa kuliah pun diharapkan terus hidup melalui tindakan yang dapat dirasakan oleh sesama.
“Persaudaraan tidak berhenti pada kenangan masa lalu. Persaudaraan harus terus hidup melalui kepedulian dan kebaikan yang kita lakukan bersama,” ujar Hena.
Bagi IKALUIN ’97, semangat tersebut menjadi pijakan untuk melangkah ke depan: menjaga silaturahmi, merawat kepedulian, dan memastikan keluarga besar alumni tetap menjadi rumah bagi setiap anggotanya.
RMBANTEN.COM – Bener, Gancang, Percaya Kajen.![]()
Pulitik Jero | 23 jam yang lalu
Pamenteun | 5 hari yang lalu
Warta Banten | 3 hari yang lalu
Parlemen | 2 hari yang lalu
Patandang | 4 hari yang lalu
Pamenteun | 1 minggu yang lalu
Hukum | 1 minggu yang lalu
Ékobis | 2 hari yang lalu
Pulitik Jero | 6 hari yang lalu