Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Harga Cabai hingga Beras Naik, Menkeu Waspadai Ancaman El Nino

Laporan: Raja Media Network
Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:47 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara - Foto: Dok Kemenkeu/RMN -
Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara - Foto: Dok Kemenkeu/RMN -

RMBANTEN.COM – Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara meminta seluruh institusi terkait meningkatkan kewaspadaan terhadap kenaikan harga sejumlah komoditas pangan. Langkah antisipasi diperlukan untuk menjaga stabilitas harga dan mencegah lonjakan inflasi, terutama menjelang potensi fenomena El Nino yang dapat memicu kekeringan.
 

Suahasil mengatakan, potensi kenaikan harga pangan perlu mendapat perhatian serius karena dampak perubahan cuaca terhadap produksi dan pasokan pangan diperkirakan akan memengaruhi harga di pasar.
 

Hal tersebut disampaikan Suahasil dalam konferensi pers APBN Kita di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
 

El Nino Jadi Perhatian Pemerintah
 

Suahasil menyoroti inflasi pada komponen volatile food, yakni kelompok harga pangan yang mudah mengalami gejolak. Menurutnya, potensi El Nino perlu diantisipasi sejak dini agar tidak mengganggu ketersediaan pasokan dan memicu kenaikan harga yang berlebihan.
 

“Kita mewaspadai inflasi komponen volatile food (harga pangan yang mudah bergejolak), karena kita akan menuju El-Nino atau kekeringan. Sehingga nanti dampaknya di harga pangan akan kelihatan,” kata Suahasil.
 

Ia meminta seluruh institusi yang berkaitan dengan sektor pangan memperhatikan perkembangan harga secara saksama. Upaya pengendalian perlu dilakukan melalui koordinasi antarlembaga agar stabilitas pasokan dan harga tetap terjaga.
 

Cabai hingga Beras Mengalami Kenaikan
 

Menkeu mengungkapkan, sejumlah komoditas pangan mulai menunjukkan kenaikan harga. Komoditas tersebut meliputi cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, telur ayam ras, dan beras.
 

Kenaikan harga tersebut dipengaruhi keterbatasan pasokan akibat penurunan produksi di sejumlah daerah sentra pangan. Kondisi ini diperburuk oleh gangguan cuaca serta meningkatnya biaya input produksi.
 

Pemerintah pun diminta mencermati perkembangan tersebut agar kenaikan harga tidak berlanjut dan membebani masyarakat.
 

“Kita minta nanti seluruh institusi yang terkait, kenaikan harga ini diperhatikan dengan sangat saksama,” tegasnya.
 

Produksi Harus Seimbang dengan Kebutuhan
 

Suahasil menekankan pentingnya menjaga produksi pangan agar mampu memenuhi permintaan domestik. Ketersediaan pasokan menjadi salah satu faktor penting untuk mencegah kenaikan harga yang dapat mendorong inflasi.
 

Pemerintah berharap tidak terjadi kekurangan pasokan yang sebenarnya dapat diantisipasi melalui perencanaan produksi, distribusi, dan koordinasi antarlembaga.
 

“Kalau bisa jangan sampai ada kekurangan dan jangan sampai meningkatkan inflasi yang tidak perlu,” ujar Suahasil.
 

Langkah antisipasi tersebut dinilai penting, terutama apabila perubahan cuaca akibat El Nino berdampak terhadap produktivitas pertanian di berbagai daerah.
 

Inflasi Pangan Tercatat 5,03 Persen
 

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, inflasi komponen volatile food tercatat meningkat menjadi 5,03 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
 

Sementara itu, inflasi pada kelompok harga yang diatur pemerintah atau administered price cenderung stabil di level 3,25 persen.
 

Suahasil menjelaskan, stabilitas inflasi pada kelompok tersebut tidak terlepas dari kebijakan pemerintah dalam menetapkan sejumlah harga, termasuk harga barang bersubsidi.
 

Komoditas yang berkontribusi terhadap inflasi administered price antara lain bensin dan solar nonsubsidi. Di sisi lain, tarif angkutan udara tercatat mengalami penurunan.
 

Inflasi Inti Turun Menjadi 2,84 Persen
 

Berbeda dengan inflasi pangan yang meningkat, inflasi inti atau core inflation pada September 2026 justru mengalami penurunan menjadi 2,84 persen, dibandingkan 2,92 persen pada Agustus 2026.
 

Penurunan tersebut ditopang oleh tren penurunan harga emas yang berlangsung sejak Maret 2026.
 

Perkembangan ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi pada September 2026 bergerak berbeda antarkomponen. Ketika inflasi inti menurun dan harga yang diatur pemerintah relatif stabil, kelompok pangan justru menghadapi tekanan kenaikan harga.
 

Karena itu, pemerintah perlu memberikan perhatian lebih terhadap ketersediaan dan kelancaran distribusi pangan, terutama untuk komoditas yang mulai mengalami kenaikan harga.
 

Antisipasi sejak dini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus mempertahankan stabilitas inflasi nasional di tengah potensi perubahan kondisi cuaca.
 

RAJAMEDIA.CO – Cepat, Tegas, Terpercaya.rajamedia

Komentar: