Banten

Parlemen

Politik

Hukum

Ekbis

Peristiwa

Olahraga

Nasional

Dunia

Gaya Hidup

Opini

Anggota Fraksi PDIP Pertanyakan Keberhasilan PIP Kurangi Angka Putus Sekolah

Laporan: RMN
Jumat, 11 November 2022 | 08:49 WIB
Anggota Komisi X DPR RI Andreas Hugo Pariera/Dok
Anggota Komisi X DPR RI Andreas Hugo Pariera/Dok

RMBanten.com, Pendidikan - Keberhasilan Program Indonesia Pintar (PIP) untuk mengurangi angka putus sekolah di Indonesia, khususnya di daerah-daerah dipertanyakan Anggota Komisi X DPR RI Andreas Hugo Pariera.

Sebelumnya ia mengapresiasi apa yang dipaparkan oleh Menteri Pendidikan, Budaya dan Ristek Mendikbud ristek) terkait program-program yang dibentuknya, termasuk pencapaian yang telah diraihnya, dan apa yang belum tercapainya.

"Namun jika bicara tentang pencapaian, maka kita harus melihat lebih detil lagi, seperti ukuran keberhasilan dari sebuah program,” ujar Andreas saat rapat kerja Komisi X DPR RI dengan Mendikbud dan Ristek Nadiem Makarim di Ruang Rapat Komisi X DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (10/11).

Politisi Fraksi PDI Perjuangan ini mencontohkan PIP (program Indonesia pintar) yang selama ini dinilai sangat baik.

Andreas lalu mempertanyakan apakah program ini berhasil atau tidak, maka harus dilihat dari ukurannya di lapangan. Terutama yang berkaitan dengan angka putus sekolah. Karena sejatinya, PIP muncul ditujukan untuk mengurangi angka putus sekolah di daerah.

Apakah tujuan PIP itu sudah tercapai, sebab Andreas melihat angka putus sekolah terutama di daerahnya masih tinggi. Bahkan tidak sedikit putus sekolah karena hal sederhana, seperti soal ketiadaan seragam, soal. Dan semua itu menurutnya terkait dengan ketepatan sasaran akan program tersebut.

“Di tempat saya, banyak yang tidak tahu ada PIP. Mereka, (terutama orangtua) baru tahu ada PIP, ketika kami membagikan PIP aspirasi anggota DPR. Bagian yang reguler ini banyak sekali yang tidak tahu," ujarnya.

"Ini juga menyangkut transparansi, berkaitan erat juga dengan operator sekolah, bagaimana operator sekolah mengisi data tadi. Banyak sekali operator di daerah yang bekerja untuk banyak sekolah. Jadi tidak jarang penginputan datanya tidak tepat. Hal seperti ini juga kerap terjadi dengan KIP (Kartu Indonesia Pintar) kuliah. Apakah program itu tepat sasaran,” demikian Andreas dilansir dari laman DPR RI.rajamedia

Komentar: