Warta Banten

Pulitik Jero

Parlemen

Hukum

Ékobis

Peristiwa

Kaamanan

Nagara

Patandang

Mancanagara

Pamenteun

Galeri

Gaya Hirup

Kabudayaan

Pendidikan

Kaséhatan

Calon Dewan

Info haji

Indeks

Membaca Arah Politik Prabowo (21): Persatuan Nasional dan Politik Kebangsaan

Oleh: H. Dede Zaki Mubarok
Jumat, 16 Oktober 2026 | 20:26 WIB
Asrtikel series: Membaca Arah Politik Prabowo (21): Persatuan Nasional dan Politik Kebangsaan - RMN -
Asrtikel series: Membaca Arah Politik Prabowo (21): Persatuan Nasional dan Politik Kebangsaan - RMN -

RMBANTEN.COM - PERSATUAN nasional bukan berarti seluruh rakyat harus memiliki pandangan yang sama. Dalam negara demokrasi, perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan politik. Yang harus dijaga adalah kemampuan bangsa untuk tetap bekerja bersama di tengah perbedaan tersebut.
 

Indonesia dibangun oleh masyarakat yang beragam: suku, agama, bahasa, budaya, dan latar belakang sosial. Keberagaman itu bukan kelemahan yang harus dihilangkan, melainkan kenyataan kebangsaan yang harus dikelola dengan bijaksana.
 

Namun, keberagaman tidak otomatis melahirkan persatuan. Persatuan membutuhkan keadilan, rasa saling percaya, penghormatan terhadap perbedaan, dan kesediaan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan golongan.
 

Bangsa yang kuat bukan bangsa yang bebas dari perbedaan, melainkan bangsa yang mampu mengelola perbedaan tanpa kehilangan persatuan.
 

Persatuan Bukan Keseragaman
 

Salah satu kekeliruan dalam memahami persatuan adalah menganggap perbedaan sebagai ancaman.
 

Padahal, Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam menyatukan berbagai identitas ke dalam satu kesepakatan kebangsaan. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika menegaskan bahwa perbedaan tidak menghalangi masyarakat untuk hidup sebagai satu bangsa.

Persatuan tidak menuntut semua orang menyetujui kebijakan pemerintah. Persatuan juga tidak mengharuskan seluruh kelompok politik memiliki agenda yang sama.
 

Dalam demokrasi, masyarakat dapat berbeda pilihan, partai, dan pandangan mengenai arah pembangunan. Perbedaan itu sah selama dijalankan dalam kerangka konstitusi dan penghormatan terhadap hak orang lain.
 

Yang berbahaya bukanlah perbedaan, melainkan ketika perbedaan diubah menjadi kebencian, diskriminasi, atau permusuhan yang merusak kehidupan bersama.
 

Persatuan membutuhkan kesepakatan tentang rumah bersama, bukan keseragaman dalam segala hal.
 

Politik Kebangsaan di Atas Kepentingan Golongan
 

Politik merupakan mekanisme untuk memperjuangkan gagasan dan kepentingan masyarakat. Namun, politik juga dapat kehilangan maknanya apabila hanya menjadi perebutan kekuasaan antarkelompok.
 

Politik kebangsaan menuntut para pemimpin melihat kepentingan nasional dalam jangka panjang, bukan semata-mata keuntungan elektoral atau kepentingan kelompoknya.
 

Partai politik boleh berbeda strategi. Para pemimpin boleh berkompetisi. Pemerintah dan oposisi boleh memiliki pandangan yang bertolak belakang.
 

Tetapi, terdapat kepentingan yang harus tetap dijaga bersama: keutuhan negara, pelaksanaan konstitusi, perlindungan hak warga, keadilan, dan kesejahteraan masyarakat.
 

Kompetisi politik boleh tajam, tetapi tanggung jawab kebangsaan tidak boleh hilang.
 

Di sinilah kedewasaan politik diuji. Apakah perbedaan digunakan untuk memperbaiki kebijakan, atau justru dipelihara untuk memperbesar permusuhan?
 

Pancasila sebagai Titik Temu Kebangsaan
 

Pancasila merupakan dasar negara sekaligus titik temu kehidupan kebangsaan Indonesia.
 

Pancasila tidak menghapus perbedaan agama, budaya, maupun pandangan politik. Sebaliknya, nilai-nilainya memberikan landasan agar perbedaan dapat hidup dalam kerangka kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial.
 

Sila Persatuan Indonesia tidak dapat dipisahkan dari sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab maupun Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
 

Artinya, persatuan tidak cukup dibangun melalui simbol dan seruan. Persatuan membutuhkan perlakuan yang adil, penghormatan terhadap martabat manusia, dan kesempatan yang layak bagi masyarakat.
 

Jika sebagian warga merasa terus-menerus diabaikan, sementara kelompok lain menikmati akses dan kesempatan yang lebih besar, rasa kebersamaan dapat melemah.
 

Karena itu, pengamalan Pancasila harus terlihat dalam penyelenggaraan negara dan kehidupan sehari-hari.
 

Pancasila bukan sekadar dasar untuk menyatukan bangsa, tetapi juga pedoman untuk memastikan persatuan itu berjalan bersama keadilan.
 

Membaca Arah Politik Prabowo
 

Persatuan nasional menjadi salah satu tema yang ditekankan Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai kesempatan.
 

Pada 26 Juni 2026, dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia, Prabowo mengajak berbagai elemen bangsa mencari titik kebersamaan di tengah perbedaan latar belakang dan pandangan. Ia menekankan pentingnya kerja sama untuk mencapai kemajuan, tanpa menghilangkan kenyataan bahwa masyarakat dapat memiliki pendapat yang berbeda.
 

Sebelumnya, pada 16 Mei 2026, Prabowo juga menekankan persatuan nasional serta pentingnya mengambil kekuatan dari berbagai pemikiran dan tokoh bangsa.
 

Pesan tersebut relevan dengan tantangan politik Indonesia: bagaimana membangun kerja sama tanpa meniadakan perbedaan, serta bagaimana menjaga persatuan tanpa mempersempit ruang demokrasi.
 

Namun, persatuan nasional tidak cukup diukur dari pertemuan antarpemimpin atau pernyataan bersama.
 

Ukuran yang lebih mendasar adalah apakah masyarakat merasa dilibatkan, apakah kebijakan memperhatikan kebutuhan berbagai kelompok, dan apakah perbedaan pandangan tetap memperoleh ruang yang layak.
 

Pertanyaan strategisnya adalah:
 

Apakah politik kebangsaan mampu menjadikan persatuan sebagai kekuatan untuk memperbaiki kehidupan rakyat, bukan sekadar slogan untuk meredam perbedaan?
 

Jawabannya harus terlihat dalam kebijakan, perilaku politik, dan cara kekuasaan memperlakukan masyarakat yang memiliki pandangan berbeda.
 

Persatuan Harus Menjaga Ruang Kritik
 

Persatuan sering kali diuji ketika pemerintah menghadapi kritik.
 

Dalam situasi tertentu, kritik dapat dianggap mengganggu stabilitas atau menghambat agenda pembangunan. Padahal, kritik yang disampaikan secara sah merupakan bagian dari demokrasi dan dapat membantu menemukan kelemahan kebijakan.
 

Persatuan tidak boleh dijadikan alasan untuk membungkam perbedaan pendapat.
 

Sebaliknya, kebebasan berpendapat juga perlu dijalankan dengan tanggung jawab, berdasarkan fakta, serta menghormati hak orang lain.
 

Pemerintah harus mampu membedakan kritik terhadap kebijakan dari tindakan yang benar-benar melanggar hukum. Masyarakat pun perlu membedakan perbedaan politik dari permusuhan terhadap sesama warga negara.
 

Kita dapat berbeda dalam menilai pemerintah, tetapi tetap memiliki tanggung jawab untuk menjaga kehidupan bersama.
 

Persatuan yang sehat memberi ruang bagi kritik, sementara kritik yang bertanggung jawab membantu memperkuat persatuan.
 

Inilah hubungan penting antara Artikel 20 tentang demokrasi dan Artikel 21 tentang politik kebangsaan.
 

Demokrasi menyediakan ruang perbedaan. Politik kebangsaan memastikan perbedaan itu tidak menghancurkan kesediaan untuk hidup bersama.
 

Keadilan Sosial sebagai Fondasi Persatuan
 

Persatuan tidak hanya dibangun melalui pidato, upacara, atau simbol kebangsaan. Persatuan juga tumbuh dari pengalaman masyarakat ketika berhadapan dengan negara.
 

Ketika masyarakat memperoleh pelayanan publik yang adil, kesempatan pendidikan yang lebih merata, akses kesehatan yang layak, dan perlindungan hukum yang setara, kepercayaan terhadap kehidupan bersama memiliki fondasi yang lebih kuat.
 

Sebaliknya, ketimpangan yang dibiarkan dan perlakuan yang dianggap tidak adil dapat memperlebar jarak antarkelompok.
 

Karena itu, pembangunan harus memperhatikan bukan hanya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga distribusi kesempatan dan manfaatnya.
 

Daerah yang tertinggal perlu memperoleh perhatian. Kelompok rentan membutuhkan perlindungan. Masyarakat kecil harus memiliki akses untuk memperbaiki kehidupannya.
 

Persatuan akan lebih kokoh ketika setiap warga merasa memiliki tempat dan masa depan di dalam bangsanya sendiri.
 

Keadilan sosial dengan demikian bukan sekadar agenda ekonomi. Ia juga merupakan investasi bagi ketahanan kebangsaan.
 

Peran Elite dalam Merawat Persatuan
 

Elite politik memiliki pengaruh besar terhadap suasana kehidupan masyarakat.
 

Pernyataan pemimpin dapat menenangkan keadaan, tetapi juga dapat memperuncing pertentangan. Sikap partai politik dapat membuka jalan dialog atau justru memperbesar polarisasi.
 

Karena itu, para pemimpin memiliki tanggung jawab untuk menjaga kualitas persaingan politik.
 

Kompetisi harus tetap berlangsung, tetapi tidak perlu mengorbankan martabat lawan. Perbedaan kepentingan dapat dinegosiasikan, tetapi tidak boleh menghilangkan kepentingan publik.
 

Kerja sama antarelite juga penting ketika menyangkut persoalan mendasar bangsa. Namun, kerja sama tersebut harus tetap terbuka terhadap pengawasan dan tidak boleh menutup ruang bagi kritik masyarakat.
 

Persatuan elite bukan tujuan akhir. Yang lebih penting adalah kemampuan mereka bekerja untuk kepentingan rakyat.
 

Elite yang dewasa bukan elite yang selalu sepakat, melainkan elite yang mampu berbeda tanpa merusak kepentingan bangsa.
 

Langkah Konkret Memperkuat Politik Kebangsaan
 

Persatuan nasional membutuhkan tindakan yang konsisten, bukan hanya seruan.
 

Pertama, memperkuat pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan agar nilai kebangsaan dipahami sebagai pedoman hidup, bukan sekadar hafalan.
 

Kedua, menjaga ruang demokrasi dan kebebasan berpendapat sehingga perbedaan dapat disampaikan tanpa intimidasi atau diskriminasi.
 

Ketiga, memperluas keadilan sosial dan pemerataan pembangunan agar setiap daerah dan kelompok masyarakat memiliki kesempatan yang lebih setara.
 

Keempat, membangun komunikasi antarkelompok melalui dialog yang melibatkan pemerintah, tokoh masyarakat, pemuda, akademisi, dan organisasi kemasyarakatan.
 

Kelima, mendorong elite politik memberi teladan dengan mengutamakan kepentingan publik dan menghindari eksploitasi perbedaan identitas untuk kepentingan sempit.
 

Keenam, memperkuat literasi digital agar masyarakat mampu mengenali disinformasi, provokasi, dan narasi yang sengaja memperuncing konflik.
 

Ukuran keberhasilannya bukan hilangnya seluruh perbedaan, melainkan meningkatnya kemampuan bangsa menyelesaikan persoalan tanpa mengorbankan persatuan dan hak warga negara.
 

Dari Persatuan Menuju Kemajuan Bangsa
 

Persatuan nasional memiliki nilai strategis bagi pembangunan.
 

Pemerintah membutuhkan kerja sama antarlembaga. Pembangunan membutuhkan keterlibatan masyarakat. Dunia usaha membutuhkan stabilitas. Pendidikan membutuhkan lingkungan yang mendukung. Demokrasi membutuhkan kepercayaan.
 

Semua itu akan lebih sulit diwujudkan apabila kehidupan politik terus terjebak dalam permusuhan.
 

Namun, stabilitas juga tidak boleh dibangun dengan mengabaikan persoalan yang nyata. Ketidakadilan tidak akan selesai hanya karena masyarakat diminta menjaga kerukunan.
 

Persatuan yang kuat justru memberi ruang untuk menyelesaikan masalah bersama secara terbuka.
 

Persatuan bukan alasan untuk menghindari persoalan, melainkan kekuatan untuk menyelesaikannya.
 

Bangsa yang mampu mengelola perbedaan akan memiliki energi lebih besar untuk menghadapi tantangan ekonomi, sosial, teknologi, dan perubahan global.
 

Penutup
 

Indonesia tidak dibangun oleh satu kelompok, satu partai, atau satu generasi.
 

Indonesia adalah hasil perjuangan dan kesepakatan banyak kelompok masyarakat yang memilih hidup sebagai satu bangsa.
 

Karena itu, persatuan harus dirawat sebagai tanggung jawab bersama. Pemerintah berkewajiban menjalankan kekuasaan secara adil. Elite politik harus menjaga kualitas persaingan. Masyarakat perlu menghormati perbedaan. Sementara itu, seluruh lembaga negara harus bekerja dalam kerangka konstitusi.
 

Persatuan bukan berarti meniadakan kritik. Kebangsaan bukan berarti menutup ruang perbedaan. Dan stabilitas bukan berarti membiarkan ketidakadilan berlangsung tanpa koreksi.
 

Justru melalui demokrasi yang sehat, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap keberagaman, persatuan dapat memperoleh dasar yang kokoh.
 

Sebab bangsa yang bersatu bukanlah bangsa yang semua warganya berpikir sama, melainkan bangsa yang tetap memilih bekerja bersama meskipun memiliki pandangan yang berbeda.
 

Membaca arah politik sebuah pemerintahan bukan hanya melihat bagaimana kekuasaan membangun kerja sama antarkelompok, tetapi juga bagaimana persatuan dirawat melalui keadilan, keterbukaan, dan penghormatan terhadap perbedaan. Sebab politik kebangsaan yang matang tidak meminta rakyat berhenti berbeda pendapat; politik kebangsaan mengajak seluruh warga memastikan bahwa perbedaan tidak menghapus tanggung jawab bersama terhadap masa depan Indonesia.
 

Penulis: Wartawan Senior, Pengurus Pusat IKALUIN Jakarta.
 

Bersambung ke Artikel (22): Politik Identitas dan Kedewasaan Demokrasi
 

RAJAMEDIA.CO - Opini 2026rajamedia

Komentar: